Sebuah studi tentang DNA yang baru menjelaskan mengapa anak
laki-laki cenderung memiliki
gangguan spektrum autisme dibandingkan
perempuan. Ternyata, anak
perempuan cenderung tidak mengembangkan autisme ketika yang tampak hanya ringan
saja. Tetapi ketika didiagnosa dengan kelainan, anak perempuan cenderung
memiliki mutasi genetika yang lebih ekstrim dibandingkan lelaki dengan gejala
yang sama.
Menurut Sebastien
Jacquemont, seorang asisten profesor pengobatan genetik di University Hospital of Lausanne
di Swiss mengatakan bahwa anak perempuan cenderung lebih tolerir pada mutasi
perkembangan syaraf (neurodevelopmental)
dibandingkan pada anak lelaki. Untuk mendorong teori bahwa anak perempuan
berada diatas ambang batas autisme dan gangguan perkembangan syaraf, dibutuhkan
lebih dari sekedar mutasi, tetapi juga ketahanan terhadap kerusakan genetik.
Yang menjadi masalah adalah, hal ini ada pada tingkal molekul sel dan masih
sangat jauh pengamatan penelitiannya.